• Muhasabah diri tentang muamalah dengan Qur'an, tingkatannya ada:

    • kita dibebani agama (taat)

    • kita membutuhkannya, karena bermanfaat (haajah)

      sami’na wa atho’na wa nafa’ana, tapi kadang perhitungan banget sama Allah, kayak "ini pahalannya berapa ya?" agama terasa ringan, tapi perhitungan sama Allah, tapi pamrihnya masih besar → Yuk saatnya naik kelas

    • Mahabbah (cinta)

      tidak berharap balasan apa-apa. nggak ingin terganggu keasikan kita dengan Qur'an

  • hubungan kita ada dimana dengan Qur'an?

  • tingkatan membaca Al Qur'an

    • tilawah → membaca dalam mental sami’na wa atho’na. secara estetika ada tahsin, secara kognitif ada tahfizh

    • qiraah → membaca semesta. tafsir itu hasil qiroah ulama’

      • ayat qouliyah
      • ayat kauniyyah
      • ayat nafsiyyah
      • ayat tarikhiyah. belajar sejarah, agar kita tidak jatuh di lubang yang sama dua kali
    • tadabbur

      dilaksanakan setelah kita paham maknanya, terus kita renungi bagaimana menghidupkan kebenarannya. biasanya yang pertama kita lakukan kita merenungi hidup kita

      gimana caranya kita meningkatkan kualitas hidup kita dan masyarakat?

  • 3 tingkatan itu hanya bisa dilakukan orang yang sudah sampai level mahabbah

  • tadi aktivasinya, sekarang alatnya. alat apa yang bisa kita pakai untuk bisa menangkap kebenarannya ayat2 tadi?

  • di dunia hari ini (peradaban modern) ada banyak orang yang beranggapan bahwa alat paten itu hanya akal dan panca indra → positivisme. menganggap yang ilmiah itu hanya yang masuk akal dan ada bukti ilmiahnya

  • belakangan muncul banyak kritik terhadap positivisme. kalau di Islam bukan anti akal anti empiris. ada 13 ayat yang redaksinya afalaa ta’qiluun

  • kalau hanya mengandalkan panca indra, panca indra sering salah. akal juga tidak sepowerful itu. coba cek (buku) batas nalar. ada yang paham, ada yang salah paham, ada yang beda paham, ada yang tidak paham.

  • Qur'an ada i’jazul ilmi

  • alat yang ketiga adalah naluri, fitrah, insting → dorongan jiwa. tidak pakai akal

  • imam Fakhruddin Ar Razi menulis kitab firasat, itu basisnya insting

  • belakangan ini sering dengar bahwa gen z tidak mau menikah dan punya anak, padahal itu naluri, bagian dari dorongan kemanusiaan, yang kalau tidak dipenuhi ada kegelisahan dalam hidup

  • untuk menjadi semakin manusiawi, kita perlu menghidupkan ini (insting)

  • keempat, nurani → suara hati. sangat penting, antara lain untuk hubungan sosial antar manusia

  • kelima, intuisi → pengetahuan yang kita temukan dalam diri kita. rasa itu kan kita menengoknya dalam diri kita. yang tau yang merasakan, itu pengetahuan intuitif. tidak mencari keluar, tapi menengok ke dalam

  • makanya sastrawan, dll sering menyendiri untuk mencari inspirasi ke dalam

  • kalau dalam agama, pengetahuan intuitif itu bentuknya antara lain Wahyu dan Ilham dari Allah. tiba2 hadir dalam pikiran kita tanpa dirancang

  • keenam, imajinasi → kalau ada ayat amal baik dan amal buruk akan ditimbang, yang muncul di pikiran kita itu timbangan, itulah imajinasi. ada banyak hal yang dengan menggunakan imajinasi kita lebih bisa menerima